Assalamu’alaikum NLPer semua
Bagaimana kabar Anda dalam mempraktekkan NLP dalam kehidupan Anda, entah itu kehidupan pribadi, keluarga, dengan pasangan, dengan anak-anak, dalam kehidupan bisnis dan profesional di tempat usaha dan kerja Anda ? Semoga Insya Allah lancar dan mudah mempraktekkan dan menuliskan serta membaginya dengan warga republiknlp, NLPers dan seluruh pembaca tulisan ini.
Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi mengenai pengalaman membantu klien dengan hypnotherapy. Klien ini, sejak kontak pertama kali sudah memutuskan untuk di-hypnotherapy. Awalnya saya agak kaget juga dengan permintaan ini. Namun setelah pertemuan inisiasi, saya menemukan alasannya mengapa dia ingin diterapi dengan hypnotherapy.
Klien saya ini adalah seorang Asst. Project Manager di sebuah perusahaan kalibrasi peralatan teknik. Beliau dalam pengakuannya mengatakan sudah overload dengan berbagai informasi pengembangan dan pemberdayaan diri, yang dia akses dari internet. Oleh karenanya dia merasa saat itu sudah tidak mampu lagi mencerna berbagai informasi yang dia terima tersebut. Namun ketika menemukan NLP yang akhirnya mengarahkan dia ke hypnotherapy, dia merasa “ ’aha’ ini dia yang cocok untuk mengatasi masalahku !”
Dari pertemuan inisiasi, saya mendapatkan bahwa klien ini sebenarnya orang yang cerdas. Namun menurut pengakuannya pula, dia cerdas hanya pada fungsi otak kiri yang dominan dia gunakan sejak sekolah – kuliah – dan hingga saat ini dia merasa cukup beruntung atau bisa survive (bertahan hidup) ‘hanya’ dengan menggunakan atau memaksimalkan penggunaan otak kiri.
Hanya saja, beliau merasa saat ini jamannya sudah berubah, sudah mulai bergeser kata dia. Orang-orang dengan ‘otak kiri’ – menurut dia – kebanyakan ‘hanya’ menjadi pelaksana atau operator dan – ini juga masih menurut dia – hanya orang-orang yang mampu memfungsikan otak kanan dan kirinya secara seimbang yang dapat menjadi pemimpin di masa depan. Hal itulah yang membuat dia ingin di-hypnotherapy – salah satunya, yaitu ingin dapat mengaktifkan fungsi otak kanannya, selain juga ada beberapa masalah pribadinya yang ingin dia selesaikan secara alam bawah sadar menggunakan hypnotherapy.
Setelah kami merasa cukup membahas hal-hal yang perlu ditangani dengan terapi – hypnotherapy, kami pun melanjutkan dengan perjanjian sesi terapi di minggu berikutnya.
Dalam sesi terapi dengan menggunakan hypnotherapy sesuai dengan data-data yang telah kami kumpulkan pada pertemuan inisiasi sebelumnya, terapi kami mulai dengan berwudhu. Beliau lalu shalat ashar, karena saat itu beliau belum shalat ashar. Setelah beliau selesai shalat, barulah kami mulai sesi hypnotherapy-nya.
Hypnotherapy kami mulai dengan pacing menggunakan nafas dan dzikir. Menyelaraskan tarikan-hembusan nafas dengan dzikir yang dilantunkan dihati atau tidak diucapkan dimulut. Semakin teratur nafas klien, semakin tenang dzikir yang dilantunkan, hingga makin dalam turunnya level kesadaran klien.
Proses pun kami lanjutkan.
Saya me-leading dia untuk menghadirkan self talknya yang sering bertentangan, menurut dia. Saya minta dia untuk menanyakan intensi positif dari masing-masing self talknya dan saya minta dia untuk memberi isyarat atau tanda jika dia sudah selesai menjalani satu per satu prosesnya.
Lalu, setelah selesai proses tersebut.
Saya minta dia untuk menimbang-nimbang apakah benar self talknya tersebut saling bertentangan, atau malah sebenarnya masing-masing self talk yang hadir itu bermanfaat di satu konteks, dan tidak atau kurang bermanfaat atau bahkan mengganggu di konteks yang lain; kemudian saya minta dia untuk berdamai dengan masing-masing self talknya itu dan meminta dia untuk mengajak self talknya itu bekerjasama dalam mencapai tujuan-tujuan yang dia inginkan, agar tidak mengganggu, tidak menghambat dan agar dapat membantu dan mendukung langkah-langkah dia.
Kemudian setelah beberapa saat dia melakukan hal yang saya minta.
Saya ajak dia untuk berdzikir kembali, meng-amplify efek dzikir yang dia rasakan, sehingga semakin lama semakin dalam, semakin tenang dan damai
Berikutnya, saya ajak dia untuk menemukan sumber cahayanya. Saya bawa dia melihat dan merasakan sumber cahayanya. Dan setiap kali dia membutuhkan suatu kondisi yang tenang dan damai seperti yang saat ini dia rasakan – untuk membantunya menyelesaikan masalah-masalah dengan dirinya atau self talknya, dia dapat kembali mengaksesnya dengan berwudhu, duduk tenang dan berdzikir seperti yang saat ini dia lakukan. Saya biarkan dia menikmati cahaya dari sumber cahayanya.
Setelah dia selesai, kami break.
Saya leading dia kembali ke alam sadarnya, perlahan-lahan.
Pada saat dia sudah kembali sadar, kami lakukan ‘evaluasi’ atas proses yang barusan saja kami jalani. Dalam pembicaraan ini dia menanyakan sejumlah pertanyaan mengenai hal-hal yang dia alami dan – lagi-lagi, menurutnya – dia mencoba merasionalkan proses yang barusan dia alami. Dia mencoba mencerna dengan logis, dengan rasionya proses tersebut. Dia ingin tahu apa saja nama dari proses-proses yang dia jalani. Kami membahasnya. Lalu sesi kami break, karena adzan maghrib telah berkumandang. Kami pun shalat berjama’ah bersama jama’ah lainnya di masjid tersebut.
Shalat maghrib berjama’ah pun selesai.
Sesi kedua kami lanjutkan.
Di sesi ini, beliau ingin menghilangkan limiting beliefnya mengenai berbisnis. Beliau punya keinginan untuk memiliki bisnis sendiri. Namun dia merasa masih ada beberapa beliefnya yang membatasinya untuk melangkah berbisnis. Kami eksplorasi apa yang jadi batasanya baginya.
Di sesi ini kami menggunakan “Changing Limiting Belief”, yaitu dengan mengakses limiting beliefnya, sumber-sumber daya yang dia miliki dan menempatkan semua itu di suatu posisi. Berikutnya, saya minta dia untuk memindahkan atau menggeeser posisi-posisi hal-hal tadi.
Sesi ini pun selesai.
Di akhir sesi dia merasa lebih baik, lebih ringan kondisi pikiran dan perasaannya. Dan limiting belief yang dia rasakan, sudah mulai memudar dan menghilang. Hanya dia perlu mengakses sumber daya lain, yang dia miliki, yang lebih kuat – atau yang paling kuat (The Most Resourceful) untuk meng-colapse limiting beliefnya. Selesai sudah sesi terapi hari itu.
Di awal tulisan ini saya sudah menyebutkan bahwa klien saya ini adalah orang yang cerdas. Dalam prosesnya pun, dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang juga pertanyaan cerdas. Namun yang dia belum miliki adalah pengalamannya. Dia belum mengalami langsung proses hypnotherapy. Mungkin dia sudah pernah membaca mengenai proses hypnotherapy, hanya saja yang dia butuhkan adalah pengalamannya.
Jadi, lesson learned dari klien saya kali ini adalah :
“Lakukan Prosesnya, Namakan Kemudian”
Wassalamu’alaikum
“Salam Empowering!”
Fitra Faturachman
“Empowering Trainer, Empowering You !”
Trainer, Konselor & Coach berbasis NLP + Islam
Licensed Practitioner of NLPTM by Dr Richard Bandler / The Society of NLPTM
www.fitra-fr.com
www.empowering-you.info
fitra.faturachman@yahoo.co.id
0856 932 90 479