Oleh: fitra2008 | Juni 23, 2008

PEMBELAJARAN & NLP # 1 : MENGELOLA PIKIRAN SISWA SAAT PROSES PEMBELAJARAN

PEMBELAJARAN & NLP # 1

MENGELOLA PIKIRAN SISWA SAAT PROSES PEMBELAJARAN

by : Fitra Faturachman

Saat ini mungkin Anda sedang duduk di depan komputer atau laptop, sambil memegang mouse atau touchpad, dan menatap layar monitor di depan Anda. Mata Anda menyusuri deretan huruf-huruf yang menyusun kata dan kalimat ini. Pikiran Anda mengikutinya dengan membuat makna atas kata-kata ini dan … tanpa Anda sadari, anda mulai merasakan bahwa sungguh beruntung menemukan tulisan ini.

Well, entah judul dari mana yang membuat Anda tertuntun dengan manis datang ke tulisan ini. :-) Yang jelas, tulisan ini didedikasikan untuk memberikan informasi mengenai Pembelajaran & NLP yang tepat dan mendidik kepada masyarakat Indonesia. Sebab kami prihatin di luar sana masih beredar kesimpang siuran informasi mengenai Pembelajaran dan NLP yang cukup menyesatkan masyarakat.

Contoh Kasus

Seorang siswa mengeluhkan sulitnya / susahnya satu mata pelajaran. Pada pelajaran itu dia ceritakan bahwa ketika gurunya menerangkan, terasa mudah mengerti dan memahami materi pelajaran yang diberikan saat itu. Namun ketika diberi latihan soal lain dalam materi yang sama, dia merasa, dan teman-temannya pun merasa demikian, kesulitan mengerjakan soal-soal latihan tersebut. Kesulitan ini menimbulkan perasaan inconfident (kurang percaya diri) dalam pelajaran itu. Akhirnya ketika ada Tes Blok (TB) mata pelajaran itu, siswa itu, dan yang lainnya juga, merasa tidak mampu mengerjakan soal TB dengan benar, yang akhirnya berimplikasi pada tidak tercapainya nilai yang diinginkan, baik oleh siswa maupun gurunya.

Fenomena diatas merupakan sebuah contoh kecil, tidak tercapainya salah satu tujuan pembelajaran – yaitu tercapainya nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) / Standar Kompetensi Belajar Minimum (SKBM). Jika siklus ini diteruskan maka akan berimplikasi pada tidak kompetennya siswa dalam menguasai pelajaran tersebut, yang terindikasi pada nilai raport siswa dibawah SKBM / KKM tadi. Apabila nilai KKM / SKBM yang ditetapkan sekolah, misalnya 65 atau 70, maka boleh jadi siswa dimaksud mendapat nilai 64 atau 69

Tulisan ini mencoba mengangkat fenomena ini dengan pendekatan “Manajemen (Pengelolaan) Kondisi Pikiran[i]”, khususnya siswa dalam konteks pembelajaran.

Di awal tulisan, sudah diisyaratkan bahwa ketidakmampuan siswa dalam mengerjakan latihan soal, sebelum mengerjakan soal TB, akan berimplikasi pada tidak tercapainya nilai KKM / SKBM. Hal ini karena secara sederhana dapat disebutkan bahwa setiap keberhasilan yang dicapai siswa dalam proses belajar – termasuk mengerjakan latihan soal – akan meningkatkan kepercayaan dirinya dalam mata pelajaran itu, dan begitupun sebaliknya. Ketidak-berhasilan siswa dalam mengerjakan latihan soal, akan membawa siswa pada perasaan tidak mampu pada mata pelajaran itu.

Merasa kecil hati, merasa tidak mampu, serta sejumlah merasa lainnya, dalam perspektif NLP (neuro-linguistic-programming) masuk dalam bahasan manajemen kondisi pikiran (state management). Menurut NLP, perilaku seseorang ditentukan oleh kondisi pikirannya. Dengan kata lain, kondisi pikiran menentukan tindakan atau gerakan tubuh seseorang.

Lebih lanjut, Teori NLP mengatakan bahwa antara tubuh dan pikiran saling mempengaruhi. Bila pikiran lagi depressi, lagi tidak bergairah, maka gerakan atau ekspresi wajah akan menyesuaikannya. Nyaris tidak ada seseorang yang sedang mengalami depresi terlihat ceria dan berjalan dengan sigap. Ia akan berjalan pelan, bahkan mondar-mandir sambil menekuk kepalanya. Berbeda dengan apabila kondisi pikiran sedang dalam kondisi rileks dan happy, tubuhnya tidak akan loyo, namun akan terlihat ceria dan berjalan pun normal-normal saja.

Individu itu – termasuk siswa – adalah mahluk bebas dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Artinya, apakah Anda akan merasa sedih dan senang pada detik ini sangat tergantung persetujuan Anda. Ketika Anda menghadapi suatu masalah misalnya, apakah Anda akan menjadi depresi atau jusru sebaliknya (senang atau biasa-biasa saja) itu sangat tergantung pada persetujuan Anda. Kalau Anda tidak setuju untuk depresi, maka depresi akan segera menghilang dari pikiran Anda. Artinya kondisi pikiran tetap terjaga.

Kenapa ada siswa yang mudah merasa tidak mampu sementara siswa lain tidak mudah terkena semua itu? Jawabannya bukan saja karena tingkat persetujuan atas masalah tersebut (siswa tersebut mudah setuju), tetapi juga karena perbedaan “cara menafsirkan” suatu masalah. Atau berbeda dalam hal “cara memaknai” terhadap masalah yang dihadapinya. Istilah yang lazim dalam dunia NLP disebut “representasi internal”.

Namun ada sedikit perbedaan pada siswa-siswi kita. Siswa-siswi kita belum terlatih dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, termasuk dalam “cara menafsirkan” suatu masalah atau ketidakberhasilan dalam proses belajarnya. Terlebih siswa-siswi kita yang terbiasa dibesarkan dengan pola asuh manja dan tidak dimandirikan oleh orangtua dan keluarga mereka.

Disini perlu saya sampaikan sedikit mengenai memprogram pikiran murid.[ii]

Dalam NLP ada suatu filter pikiran yang disebut sebagai Metaprogram Toward-Avoidance. Maksudnya adalah, seorang manusia normal akan mengejar kenikmatan (pleasure) dan menghindari penderitaan (pain). Oleh Anthony Robbins konsep ini dipopulerkan dengan istilah PPP (Pain pleasure principle) dan dikemas dalam ilmu Neuro Association Conditioning.

Manusia akan menghindari penderitaan (Avoidance Pain) contohnya apabila terasa panas di perjalanan maka dia minggir menghindari panasnya matahari ke tempat teduh. Jika haus, akan minum, jika muncul rasa lapar maka dia akan menghindari rasa lapar itu dengan makan. Dan Manusia itu Pleasure Towards atau mengejar kenikmatan contohnya jika seseorang bisa makan enak, dibandingkan dengan makan makanan yang tidak enak, maka manusia cenderung memilih makan makanan yang enak. Jika bangun pagi dan masuk lebih pagi ke sekolah akan mendapatkan uang saku tambahan dari orangtuanya, atau nilai tambahan atau pujian atau penghargaan dari guru-gurunya, maka anak-anak / siswa-siswi akan lebih bersemangat bangun dan masuk pagi ke sekolah. Dan seterusnya.

Jadi kesimpulannya : yang tidak nyaman dihindari, dan yang enak-enak akan dikejar. Itu adalah normalnya manusia. Dengan demikian, jika kita ingin efektif dalam hidup, termasuk dalam proses belajar, apa yang harusnya kita lakukan? Segala sesuatu yang penting dan harus dilakukan kita asosiasikan dengan pleasure, segala sesuatu yang buruk dan harus dihindari kita asosiasikan dengan pain. Ini kuncinya! Jadi suatu tindakan akan dihindari dengan pain … dan tindakan yang diharapkan akan dilakukan dengan penuh motivasi apabila berkolerasi, berasoasiasi sekaligus dengan pleasure . . .

Orang yang sukses adalah orang yang selalu mengkondisikan pikirannya pada kondisi “netral-positif”. Yakni, kondisi tenang, rileks, tidak merasa tidak mampu atau tidak berdaya. Kalau pun merasa tidak mampu, ia segera mengambil makna positifnya. Ia selalu memberdayakan diri meski dalam kondisi kurang menyenangkan sekali pun. Sementara orang yang cenderung gagal, ia terlampau sering mengkondisikan pikirannya pada kondisi “negatif”. Terlalu mendramatisir kondisi pikirannya ke lautan masalahnya. Banyak orang menyebutnya sebagai negative thinking.

Seseorang yang terlampau sering mengkondisikan pikirannya pada kondisi negatif, perilakunya cenderung negatif, hasilnya negatif. Tidak percaya? Lihat saja, seseorang yang sudah dirasuki sikap negatif, su-u zhon, apa pun di depannya dipandang secara negatif pula. Orang lagi bicara baik-baik, dikira sedang menggurui, temannya lagi humor dirasakan sebagai pelecehan. Pasangan hidup atau pacar Anda sedang membangun kemitraan bisnis dengan orang lain,disikapinya dengan rasa cemburu. Parahnya lagi, seekor kucing tidak tahu apa-apa yang kebetulan sedang lewat pun ditendang!

Termasuk siswa-siswi kita ! Ketika mereka terlalu sering mengkondisikan pikirannya pada kondisi negatif saat pembelajaran, seperti misalnya guru menyampaikan pelajaran dengan monoton, sehingga membuat siswa merasa bosan; guru memberikan latihan soal yang sulit, sehingga siswa merasa tidak mampu pada pelajaran itu. Maka yang timbul kemudian adalah siswa mengasosiasikan latihan soal, atau bahkan lebih parah lagi pembelajaran mata pelajaran itu, dengan pain, bukan pleasure

Apa penyebabnya? Sekali lagi representasi internal, yakni cara menafsirkan atau memberikan makna atas sesuatu hal yang terjadi di sekitar Anda, termasuk yang dialami siswa-siswi kita.

Representasi internal merupakan “potret” (bisa juga disebut file) atas kejadian, peristiwa, pengalaman yang bersemayam dalam pikiran kita. “Potret” itu merupakan gambaran mental yang hidup dalam alam pikiran kita. “Potret” itu bisa berubah seperti peristiwa aslinya, seperti pengalaman aslinya, manakala pemiliknya mencoba menghadirkan dan merasakannya kembali.

Contoh tentang sebuah “potret” yang bisa dihadirkan dan dirasakan kembali. Mungkin Anda pernah mendapatkan prestasi-prestasi kecil. Katakanlah Anda pernah menjadi juara lomba menggambar tingkat kampung. “Potretnya” atau file-nya adalah juara menggambar, namun apabila Anda mencoba mengingat dan merasakan kembali seperti pada saat Anda juara (mungkin terima hadiah), maka kondisi pikiran Anda akan merasa senang, sesenang waktu Anda menerima hadiah.

Pikiran kita terlalu banyak “potret-potret” atau “foto-foto”atas berbagai pengalaman kita selama ini. Semuanya tersimpan dengan baik di gudang penyimpanan informasi yakni alam pikiran bawah sadar. Semuanya dapat diakses kembali, dapat dimunculkan kembali sesuai dengan aslinya. Apabila “potret-potret” itu adalah representasi dari pengalaman-pengalaman yang memberdayakan (semua pengalaman yang menjadikan diri kita merasa lebih berdayaguna) maka kondisi pikiran kita merasa lebih berdayaguna. Sebaliknya apabila “potret-potret” itu representasi dari pengalaman-pengalaman negatif yang tidak memberdayakan, maka – bila mengingatnya kembali — hanya akan menjadikan kondisi pikiran loyo / tidak berdaya.

Hal ini pun terjadi pula dalam konteks pembelajaran yang dilakukan dan dialami siswa-siswi kita. Maksudnya begini : ketika pengalaman-pengalaman yang memberdayakan (yang membuat siswa-siswi kita merasa lebih mampu menguasai pelajaran yang disajikan guru), maka kondisi pikiran mereka merasa lebih berdayaguna, dan begitupun sebaliknya. Ketika pengalaman-pengalaman mereka tidak berhasil mengerjakan latihan soal, padahal baru latihan – belum soal TB, apalagi UAS,UAN, ato SPMB, maka mereka merasa tidak mampu alias merasa tidak berdaya dalam pelajaran itu.

Setiap potret (file) paling tidak memiliki tiga dimensi: yakni dimensi visual (pengalaman yang pernah ia lihat), dimensi auditory (apa yang ia dengar dengan pengalaman itu) dan dimensi kinestetik (apa yang ia rasakan). Apabila potret/file itu ibarat sebuah foto, maka secara visual itu bisa berwarna (hitam/putih), gelap atau terang; bila ibaratnya sebuah film, maka secara auditorial potret/file itu ada suaranya yang nyaring, lantang atau sayup-sayup. Termasuk, secara kinestetik potret/file yang merupakan representasi dari sebuah peristiwa/pengalaman, dapat dirasakan intensitas, getaran dan bobotnya.

Hidup ini tidak lain adalah serangkaian pengalaman atau peristiwa-peristiwa, dari peristiwa kecil hingga besar, dari yang menyedihkan dan menyenangkan. Semuanya menjadi potret/file di alam pikiran bawah sadar. Dan semuanya dapat diputar ulang, dapat diakses ulang secara visual, auditory, dan/atau kinestetik sekaligus kombinasi ketiganya dalam waktu yang sama menjadi –layaknya—sebuah film dokumenter.

Dalam kasus siswa merasa tidak mampu dalam satu pelajaran tertentu, ini tidak lepas dari pengalaman siswa yang bersangkutan telah mengalaminya, baik secara langsung atau tidak langsung. Mungkin karena orang tuanya, mungkin karena gurunya, mungkin karena orang-orang di sekitarnya atau pada kesempatan tertentu – dalam tulisan ini ingin lebih dispesifikkan lagi yaitu dalam pembelajaran yang dialaminya – dengan intesitas cukup kuat / tinggi sehingga membentuk kesan dan menjadi potret/foto/file dalam pikirannya, khususnya pikiran bawah sadar.

Potret/file akan menjadi tetap potret/foto atau berubah menjadi film berwarna sesuai pengalaman aslinya (merasa tidak mampu), akan sangat tergantung peran aktif pemiliknya. Apabila pemiliknya rajin mengakses dan memutarnya menjadi film maka perasaan tidak mampu semakin mendekat dan terasakan. Semakin kuat intensitas emosionalnya baik melalui apa yang ia lihat, dengar dan rasakan, maka semakin membawa pada kondisi pikiran yang tidak nyaman. Bahkan bila volume, ritme, kecepatan diperbesar akan memicu perasaan (kondisi pikiran) yang berlebihan yaitu perasaan tidak mampu semakin kuat intensitasnya.

Begitu pun sebaliknya. Apabila pemiliknya rajin mengakses dan memutarnya menjadi film yang menyenangkan maka perasaan mampu semakin mendekat dan terasakan. Semakin kuat intensitas emosionalnya baik melalui apa yang ia lihat, dengan dan rasakan, maka semakin membawa pada kondisi pikiran yang nyaman. Bahkan bila volume, ritme, dan kecepatan film tersebut diperbesar akan memicu perasaan (kondisi pikiran) yang berlebihan yaitu perasaan mampu semakin kuat intensitasnya.

Sekali lagi, hidup dan matinya potret itu, atau aktif tidaknya file itu sangat tergantung bagaimana ia (pemiliknya) memperlakukannya. Bila saja ia berani memperlakukan foto/file itu tetap foto, jangan diaktifkan, apalagi merubahnya menjadi film, maka foto itu tidaklah banyak pengaruhnya, yakni perasaan dikejar-kejar tidak menguasai kondisi pikirannya.

Salah satu prinsip kerja pikiran sadar dan pikiran bawah sadar adalah “on-off”. Artinya, sudah menjadi kodrati pikiran bahwa ketika pikiran sadar “on” yakni fokus pada satu hal, maka pada saat yang sama pikiran bawah sadar menjadi “off” yakni menutup. Tidak mungkin pikiran kita berfokus/berkonsentrasi ke banyak objek. Metafornya (persamaannya) tidak mungkin satu layar monitor komputer dapat menampilkan berbagai macam file dalam waktu yang sama. Mekanisme kerja pikiran seperti ini dapat dimanfaatkan untuk mengunci/menutup foto/file merasa tidak mampu, dan pada saat yang sama membuka foto/file lainnya yang lebih mendayaguna dan memotivasi.

Solusi dari Guru Untuk Dilakukan Siswa

Ada beberapa cara agar pikiran siswa Anda merasa mampu atau tetap dalam kondisi rileks dan normal. Sebuah kondisi penting untuk meraih berbagai prestasi. Saya ingatkan lagi bahwa kondisi pikiran menentukan perilaku.

1. Setiap saat perasaan tidak mampu itu muncul pada siswa Anda, mintalah mereka duduk dengan rileks dan ambil nafas yang panjang melalui hidung lalu buang lewat mulut secara perlahan dan rilekskan tubuh dan pikiran siswa Anda. Lakukan dan ulangi minimal tujuh kali. Bila tubuh rileks pikiran pasti mengikutinya. Ingat antara pikiran dan tubuh saling mempengaruhi.

2. Setiap foto/file perasaan tidak mampu datang, segera tahan atau menutupnya dan segera menggantinya dengan perasaan rileks atau perasaan-perasaan lain yang lebih berdayaguna dan memotivasi.

3. Perlakukan foto/file perasaan tidak mampu seperti foto hitam putih yang tidak menarik dan buatlah foto/file itu semakin kecil dan semakin mengecil. Hindari menghidupkannya seperti film berwarna dengan segala dimensinya.

4. Sebagai gantinya, hidupkan dan nikmati foto/file sebuah pengalaman/peristiwa yang menjadikan diri siswa Anda lebih merasa berdayaguna dan lebih merasa termotivasi. Bila perlu putar dengan intensitas gambar yang lebih tajam, suara yang lebih nyaring, dan rasa yang menyejukkan dan menyenangkan.

5. Begitu siswa Anda sedang menikmati film yang disukainya (pada poin 4) segera ajak siswa Anda untuk membuka matanya dan rasakan betapa siswa Anda sekarang lebih rileks, termotivasi dan berdayaguna

Bagi Anda para Bapak dan Ibu Guru dapat juga melakukan urutan hal yang saya tuliskan diatas ketika Anda melakukan pengakondisian pada pikiran dan perasaan Anda sendiri.

Tips Lain Untuk Digunakan Di Ruang Kelas

1. Siasatilah kegiatan pembelajaran Anda, untuk bisa dilakukan tidak hanya diruang kelas, namun bisa berpindah ke ruangan-ruangan lain yang sesuai dengan konteks pembelajaran Anda dan materi yang sedang Anda bawakan

2. Gunakanlah pembawaan diri Anda yang menyenangkan dalam pembelajaran Anda, sehingga menghindari kesan monoton dan membosankan dengan pelajaran yang Anda bawakan

3. Sering-seringlah memberi latihan soal yang tahap kesulitannya bertahap mulai dari mudah – sedang – hingga sulit, dengan menyesuaikan perkembangan kemampuan siswa-siswi Anda dalam materi yang sedang Anda bawakan. Semakin sering siswa-siswi Anda merasa mampu mengerjakan latihan soal, semakin siswa-siswi Anda merasa mampu dalam pelajaran yang Anda bawakan, dan semakin PD (Percaya Diri) siswa-siswi Anda menguasai pelajaran itu

Demikianlah dari saya untuk berbagi mengenai Pembelajaran dan NLP kali ini. Semoga bermanfaat dan dapat diaplikasikan langsung diruang kelas Anda ! Masukan, saran dan diskusi mengenai hal ini akan memperkaya pembahasan ini. Atas perhatian Anda, terima kasih !


Referensi :

[i] Manajemen Kondisi Pikiran, Waidi Akbar, www.portalnlp.com, Written by Waidi on 14 March 2007 – 12:00 am

[ii] Memprogram Pikiran Murid Sekolah Secara Salah, Ronny FR, www.portalnlp.com, Written by ronnyfr on 25 October 2007 – 8:43 pm


Beri tanggapan

Your response:

Kategori