PARENTING & NLP # 1
PERLUNYA BERSIKAP TEGAS & KONSISTEN TERHADAP PERILAKU ANAK
Saat ini mungkin Anda sedang duduk di depan komputer atau laptop, sambil memegang mouse atau touchpad, dan menatap layar monitor di depan Anda. Mata Anda menyusuri deretan huruf-huruf yang menyusun kata dan kalimat ini. Pikiran Anda mengikutinya dengan membuat makna atas kata-kata ini dan … tanpa Anda sadari, anda mulai merasakan bahwa sungguh beruntung menemukan tulisan ini.
Well, entah judul dari mana yang membuat Anda tertuntun dengan manis datang ke tulisan ini.
Yang jelas, tulisan ini didedikasikan untuk memberikan informasi mengenai PARENTING & NLP yang tepat dan mendidik kepada masyarakat Indonesia. Dalam rangka memperkaya khazanah praktek & keilmuan PARENTING & NLP di Indonesia.
Contoh Kasus
Dalam sebuah acara forum sharing (berbagi) materi NLP bertanyalah seorang bapak, “Bagaimana caranya menghadapi perilaku anak yang selalu menyatakan keinginannya
dengan menangis ?”
Anda, mungkin pernah, atau sedang mengalami hal seperti ini. Pada kesempatan tulisan ini, saya ingin berbagi mengenai PERLUNYA BERSIKAP TEGAS & KONSISTEN TERHADAP PERILAKU ANAK, dari sudut pandang PARENTING & NLP.
Dalam buku “Menjadi Orangtua Efektif (MOE)”, dituliskan : Anda bahkan tidak perlu bersikap konsisten untuk tetap menjadi orangtua yang efektif. Kalau saya atau Anda berhenti membacanya sampai di titik itu, maka saya secara pribadi tidak setuju dengan penulisnya. Namun setelah kalimat tersebut, ada kalimat lanjutannya seperti ini : “Anda tidak perlu berpura-pura untuk menerima dan mencintai seorang anak apabila Anda sungguh-sungguh tidak merasakannya demikian. Anda juga tidak harus merasakan derajat kecintaan dan penerimaan yang sama terhadap semua anak Anda. Akhirnya, Anda dan pasangan Anda tidak perlu membuat benteng bersama dalam menghadapi anak-anak. Tapi sangatlah penting bagi Anda untuk belajar mengetahui apa yang sungguh-sungguh Anda rasakan.”
Saya ingin menegaskan 2 (dua) kalimat terakhir yang tertulis diatas dari perspektif NLP. “Anda dan pasangan Anda tidak perlu membuat benteng bersama dalam menghadapi anak-anak. Tapi sangatlah penting bagi Anda untuk belajar mengetahui apa yang sungguh-sungguh Anda rasakan.”
Dalam kalimat mengenai tidak perlu membuat benteng bersama dalam menghadapi anak-anak, hal ini akan sangat terasa oleh orangtua-orangtua yang sering kesulitan menangani perilaku anak-anaknya. Maksud saya begini : bagi orangtua-orangtua yang sering mengalami kesulitan dalam menangani perilaku anak-anak mereka, ada kecenderungan untuk membuat benteng di depan anak-anak mereka. Benteng yang dimaksud dapat berupa bersikap manis, berwajah manis atau bermulut manis, atau hadiah-hadiah yang manis-manis lainnya – yang notabene kesemua “yang manis-manis” itu merupakan cara orangtua untuk “mengendalikan” anak-anak mereka sambil menyembunyikan perasaan-perasaan mereka yang berkaitan dengan perbuatan anak-anak mereka
Dalam kalimat selanjutnya penulis buku itu melanjutkan,” Tapi sangatlah penting bagi Anda untuk belajar mengetahui apa yang sungguh-sungguh Anda rasakan.” Inilah yang saya setuju atau sependapat dengan penulis tersebut.
Dalam Framework NLP disebutkan bahwa hal dasar atau yang terlebih dahulu dilakukan oleh diri sendiri, sebelum melangkah lebih lanjut ke teknik atau pattern / pola yang digunakan dalam mengubah perilaku, adalah Rapport (baca : Rapo). Dalam hal belajar mengetahui apa yang sungguh-sungguh Anda rasakan, dapat dimulai dengan Rapport kepada atau terhadap diri sendiri.
Ketika seseorang sudah mulai Rapport dengan dirinya sendiri, maka dia akan mengenal dirinya dengan lebih baik : pikirannya, perasaannya, tubuhnya bahkan hatinya. 2 (dua) kalimat terakhir yang saya kutip dari buku MOE, sangat menunjukkan kualitas Rapport orangtua dalam menghadapi anak-anak mereka.
Orangtua yang sudah memiliki Rapport yang baik dengan dirinya sendiri, maka mereka pun akan lebih mudah menangani anak-anak mereka. Orangtua tersebut menjadi mudah dan sungguh-sungguh mengenali perasaan mereka ketika berhadapan dengan perilaku-perilaku anak-anak mereka, yang saat itu sedang membuat mereka kesulitan menghadapinya. Dengan Rapport yang baik terhadap diri mereka sendiri, orangtua tidak perlu lagi membuat benteng terhadap perilaku anak-anaknya. Dengan Rapport yang baik terhadap diri mereka sendiri, orangtua menjadi lebih mudah menghadapi apapun perilaku anak-anak mereka. Berikut ini akan saya hubungan pembahasan ini dengan judul tulisan ini, dengan sebelumnya membahas mengenai pola-pola perilaku anak-anak dan orangtuanya.
POLA-POLA PERILAKU ANAK-ANAK DAN ORANGTUANYA
“Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya” (Pepatah Indonesia)
“Anak-anak adalah hacker bagi perilaku orangtuanya”, begitu kata mas Bobby Meidrie Levianto dalam sharingnya. Saya setuju dengan pendapat ini berdasarkan pengamatan terhadap orangtua-orangtua murid yang pernah curhat ke saya dan pengalaman saya dengan anak saya, Salwa.
Anak-anak adalah seorang pembelajar NLP sejati! Mereka memodel apapun yang dikatakan atau dilakukan kedua orangtuanya, bahkan mereka pun mampu mengenali pola-pola perilaku orangtua mereka dalam situasi-situasi tertentu, yang boleh jadi hal ini kurang atau tidak disadari oleh orangtua.
Disisi lain sebagai orangtua, tentu ada perilaku-perilaku yang ingin ditampilkan atau ditunjukkan oleh anak-anak mereka. Atau dengan kata lain, orangtua menginginkan anak-anak mereka berperilaku tertentu seperti yang mereka ajarkan dan harapkan. Sayangnya menjadi orangtua itu tidak ada sekolahnya, “Sekolah Menjadi Orangtua”. Saya sempat menemukan baru-baru ini mulai bermunculan jenis training seperti ini yang berisi materi-materi mengenai menjadi orangtua yang efektif atau yang lebih baik. Insya Allah saya akan mengisi kekosongan kondisi “Sekolah Menjadi Orangtua” ini dengan training-training yang saya rancang. Ok, justru karena itulah saya sharing materi ini!
Pada umumnya orangtua juga manusia biasa. Mereka memiliki pikiran, perasaan, tubuh dan hatinya sendiri, selain kebiasaan, pola-pola perilaku yang dia sudah kenal dan gunakan selama ini, pengalaman, kesibukan di pekerjaan sampai kepada pola-pola asuh yang diserapnya – secara sadar atau tidak – dari orangtua mereka, teman-teman mereka, buku atau sumber-sumber lainnya.
Masalah seperti yang saya tuliskan diatas itu timbul karena, tanpa disadari, orangtua menggunakan pola-pola yang dikenalnya tersebut secara langsung kepada anak-anaknya. Dan tanpa sengaja juga, anak-anak mereka mengikuti dan mengenali pola-pola yang digunakan orangtua mereka dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti saya sebutkan diatas.
Hal ini baru kemudian menjadi masalah ketika timbul perilaku-perilaku anak yang kurang atau tidak diharapkan orangtua karena orangtua merasa tidak nyaman dengan perilaku anak-anak mereka.
Bagusnya kalau orangtua tahu dan menyadari bahwa perilaku anak-anak mereka yang sekarang menjadi “masalah” itu adalah merupakan pola-pola perilaku yang dia (orangtua) sendiri yang membentuknya. Celakanya ketika orangtua itu hanya melihat perilaku anak-anak mereka pada saat itu karena perilaku itu merupakan perilaku “asli” anak-anak mereka tanpa orangtua menyadari atau merasa pernah “mengajarkan” perilaku tersebut kepada anak-anak mereka.
Seperti saya sebutkan diatas, bahwa anak-anak dapat mengenali pola-pola perilaku orangtuanya dalam keadaan-keadaan tertentu terhadap perilaku-perilaku dirinya (sang anak).
Oleh karenanya menjadi penting bagi semua orangtua yang ingin membentuk perilaku anak-anak mereka menjadi seperti yang mereka inginkan dan harapkan untuk menyadari setiap tutur kata dan pola-pola perilaku mereka (orangtua) dalam membentuk perilaku-perilaku yang diinginkan dan tidak dinginkan dari perilaku-perilaku anak-anak mereka.
Untuk lebih mudah dipahami, baiklah saya perjelas seperti ini.
Bentuklah pola-pola perilaku Anda sebagai orangtua untuk membentuk pola-pola perilaku yang Anda inginkan dari anak-anak Anda. Dan bentuk pula pola-pola perilaku Anda sebagai orangtua untuk membentuk pola-pola perilaku yang Anda tidak inginkan dari anak-anak Anda. Selanjutnya buatlah kedua buah pola perilaku ini menjadi jelas dan mudah dipahami anak-anak Anda.
Ketika anak-anak Anda menunjukkan perilaku yang Anda inginkan atau Anda senangi, perlihatkanlah, perdengarkanlah atau tunjukkanlah pada mereka pola perilaku Anda yang menunjukkan persetujuan terhadap mereka (anak-anak). Namun ketika anak-anak Anda menunjukkan perilaku yang Anda tidak inginkan atau Anda tidak suka melihatnya, mendengarnya atau merasakannya, maka perlihatkanlah, perdengarkanlah, atau tunjukkanlah pada mereka ketidaksetujuan Anda kepada perilaku mereka, bukan kepada mereka secara personal.
Dalam hal anak-anak menunjukkan perilaku yang Anda setuju, silahkan Anda menjadikan satu antara anak Anda secara pribadi dengan perilaku-perilakunya. Hal ini untuk memperkuat efek meningkatkan percaya diri dan harga diri pada sang anak.
Namun dalam hal anak-anak menunjukkan perilaku yang Anda tidak menyetujuinya, harap berhati-hati. Hal ini dapat berefek sebaliknya. Sebaiknya, saat itu terjadi silahkan Anda pisahkan antara anak-anak dan perilakunya. Anda dapat mengatakan,”Papa/Mama tidak suka apa yang baru saja kamu lakukan/katakan!” Hindari mengatakan,”Kamu nakal!” dan kata-kata lain sejenis itu. Hal itu berarti sedang menyatukan anak Anda dengan perilakunya, sekaligus menjatuhkan rasa percaya diri dan harga dirinya. Hal ini tentu tidak Anda inginkan sebagai orangtua. Jadi sebaiknya Anda hindari, ya !
PERLUNYA BERSIKAP TEGAS & KONSISTEN TERHADAP PERILAKU ANAK
Kini Anda sebagai orangtua sudah memahami pentingnya Rapport terhadap diri sendiri yang sangat bermanfaat dalam membentuk perilaku anak-anak Anda. Anda pun sudah mengerti bagaimana pola-pola perilaku Anda membentuk pola-pola perilaku anak-anak Anda. Sekarang saya ingin mengakhiri pembahasan tulisan ini dengan sub judul yang sesuai dengan judul tulisan diatas.
Saya pun awalnya merasakan sulit walaupun akhirnya mudah karena terbiasa menyadari pola-pola perilaku saya dan istri dalam membentuk pola-pola perilaku anak kami, Salwa. Begitupun juga dengan Anda, saya rasa demikian. Yang terpenting adalah mulailah menyadari setiap tutur kata dan perilaku Anda dan pasangan Anda kepada anak-anak Anda. Bukankah Anda dan pasangan pun menginginkan anak-anak Anda menampilkan perilaku-perilaku yang Anda inginkan dan bahkan banggakan ?! Tentu saja iya jawabnya !
Ketika Anda sudah terbiasa Rapport dengan diri sendiri dan menyadari pola-pola perilaku Anda dan pasangan Anda kepada anak-anak Anda, selanjutnya yang dibutuhkan hanyalah melanjutkan kebiasaan tersebut dengan sebuah Sikap Tegas dan Konsisten, sesuai dengan pola-pola yang sudah terbentuk tadi.
Dengan berjalannya waktu, maka anak-anak Anda pun tumbuh dan berkembang besar – yang saya berharap – seiring dengan pertumbuhan dan kedewasaan kita sebagai orangtua dalam bersikap kepada anak-anak kita dengan lebih baik lagi.
Selamat berlatih !
Selamat menjadi Orangtua yang lebih baik,
Untuk anak-anak dan generasi yang lebih baik!
Saya menunggu sharing Anda di fitra.faturachman@yahoo.co.id
NB :
Untuk membantu atau menjawab pertanyaan diatas, dapat dilakukan “Break The Pattern” yang digunakan anak pada saat itu, lalu alihkan perhatiannya ke hal lain yang dia suka atau hal lain yang menyenangkan dan langsung Anda gunakan pattern atau pola perilaku baru bagi anak agar keinginannya saat itu tercapai dan langsung Anda berikan apa yang dia minta atau kalau Anda berikan penundaan, katakan waktu penundaan yang jelas dan terbatas.