Oleh: fitra2008 | Juni 23, 2008

PEMBELAJARAN & NLP # 2 : MENGENALI MODALITAS DAN DOMINASI OTAK

PEMBELAJARAN & NLP # 2 :
MENGENALI MODALITAS DAN DOMINASI OTAK SISWA DALAM BELAJAR,
MEMUDAHKAN GURU DALAM MEMBAWAKAN MATERI PELAJARAN KE MURID

Pernahkah Anda merasa seperti ini ?

a. Membawakan materi pelajaran dengan berulang kali, tetapi tetap saja murid Anda merasa kesulitan
menerima bahkan memahami pelajaran tersebut
b. Merasa bahwa murid Anda sebenarnya mampu atau bisa menerima pelajaran yang Anda bawakan,
tetapi koq, kenyatannya dia masih belum bisa menjawab pertanyaan Anda dengan benar dan tepat
c. Memperhatikan murid yang satu, koq, sepertinya mudah menerima dan memahami materi pelajaran
yang Anda bawakan, tetapi yang lain koq seperti mengalami kesulitan menerima dan memahami
pelajaran Anda

Pada kesempatan tulisan kali ini, Insya Allah, saya akan berbagi dan membahas mengenai Modalitas dan Dominasi Otak, yang saya bawakan secara atau dalam perspektif NLP (Neuro Linguistic Programming).

Dalam NLP adalah beberapa presuposisi atau asumsi yang ingin saya bawakan sesuai dengan materi pembahasan ini. Presuposisi yang saya maksud adalah :
1. We always communicating (Kita selalu berkomunikasi)
2. The Meaning of the communication is the response that you get
(Makna/maksud dari berkomunikasi adalah respon yang Anda terima)
3. People respon to their map of reality, not to reality itself
(Orang merespon kepada peta realitas (realitas internal – yang berada di otak) mereka sendiri,
bukan kepada realitas itu sendiri[realitas eksternal – peristiwa yang terjadi])
4. People always make the best choice available to them
(Orang selalu membuat pilihan terbaik yang tersedia bagi mereka)
5. Every behavior is useful in some context
(Setiap perilaku memiliki manfaat pada beberapa konteks)
6. People already have most of the resources that they need
(Orang telah memiliki hampir semua sumber yang mereka perlukan)
7. There is no failure, only feedback
(Tidak ada yang namanya gagal, yang ada hanya umpan balik)
8. If what your’re doing does not work, do something else
(Jika sesuatu yang Anda lakukan tidak berhasil, lakukan sesuatu yang lain)

Di samping presuposisi diatas, saya pun akan mengenalkan mengenai Modalitas dan Dominasi Otak. Adapun yang saya maksudkan dengan Modalitas disini adalah Cara Termudah Anda menyerap informasi dan Dominasi Otak adalah Cara Anda mengatur dan mengolah informasi. Oleh sebab itu maka yang disebut Cara Belajar adalah kombinasi dari bagaimana Anda menyerap, lalu mengatur dan mengolah informasi.

We always communicating (Kita selalu berkomunikasi)

Suasana pembelajaran dikelas merupakan sebuah bentuk komunikasi antara Guru dan Murid. Ada kalanya, Guru sebagai sumber informasi dan Murid sebagai penerima informasi. Namun dikala yang lain, Murid pun berperan sebagai sumber informasi, dan dengan demikian Guru berperan sebagai penerima informasi.

Informasi dari Guru dapat berupa pelajaran inti atau inti materi pembahasan saat itu, penjelasan tambahan yang tidak ada di buku pelajaran, jawaban terhadap pertanyaan Murid, atau apapun yang dilakukan dan dikatakan Guru diruang kelas merupakan bentuk-bentuk informasi yang disampaikan Guru – baik sadar maupun tidak sadar. Informasi dari Murid dapat berupa anggukan kepala sebagai tanda ia mengerti, bertanya, bercanda dengan teman disebelah, dibelakang atau disebelah bangkunya, ekspresi wajah bingung, bengong (melamun), atau mengantuk bahkan sampai tertidur di kelas.

Modalitas & Dominasi Otak

Setiap orang terbiasa atau terbentuk sejak kecil dalam menerima dan menyerap informasi menggunakan preferensi atau keunggulan yang dimilikinya, termasuk Murid dalam menerima dan menyerap berbagai informasi dari Gurunya. Modalitas yang dikenali sampai saat ini ada 5 (lima) jenis berdasarkan indera sensori manusia yaitu : Visual (dengan Melihat), Auditorial (dengan Mendengar), Kinestetik (dengan bergerak, praktek, bekerja, menyentuh, merasa, meraba), Olfactory (dengan membaui – menggunakan hidungnya) dan terakhir Gustatory (dengan merasa menggunakan lidahnya). Namun umumnya yang banyak digunakan hanya 3 dari 5 yang ada tersebut, yaitu :
1. Visual (V) : Belajar dengan cara melihat
2. Auditorial (A) : Belajar dengan cara mendengar
3. Kinestetik (K) : Belajar dengan cara bergerak, praktek, bekerja, menyentuh, merasa, meraba

Disini saya tuliskan beberapa hal mengenai ciri-ciri dan cara mengenali masing-masing Modalitas.
I. Ketika merangkai sesuatu, cara yang lebih disukai :
a. Visual : dengan mengikuti ilustrasi atau membaca instruksi
b. Auditorial : dengan meminta orang lain mengatakan caranya padanya
c. Kinestetik : dengan mulai mengerjakannya sendiri

II. Karakteristiknya :
a. Visual : Suka mencoret-coret ketika berbicara di telpon, berbicara dengan cepat, lebih
suka melihat peta daripada mendengar penjelasan
b. Auditorial : Suka berbicara sendiri, lebih menyukai ceramah atau seminar daripada
membaca buku, lebih suka berbicara daripada menulis
c. Kinestetik : Suka berpikir lebih baik ketika bergerak atau berjalan, banyak menggerakkan
anggota tubuh ketika berbicara, merasa sulit untuk duduk diam

III. Kata-kata khasnya :
a. Visual : Kata-kata khasnya yang sering digunakan dalam pembicaraan : ”Menurut
pandangan saya . . . .”, dan kecepatan bicaranya : cepat
b. Auditorial : Kata-kata khasnya yang sering digunakan dalam pembicaraan : “Aku mendengar
apa yang kau katakan”, dan kecepatan bicaranya : sedang, berirama atau ada
intonasinya
c. Kinestetik : Kata-kata khasnya yang sering digunakan dalam pembicaraan : “Saya merasa
sepertinya Anda . . . .”, kecepatan bicaranya : cenderung lambat

IV. Isyarat Verbalnya : (kata-kata yang sering dia gunakan)
a. Visual : “Itu kelihatannya baik untukku !”
b. Auditorial : “Itu kedengarannya baik untukku !”
c. Kinestetik : “Itu rasanya baik bagiku !”

Dominasi Otak merupakan penjelasan mengenai cara kerja otak yang lebih dominan. Dominasi Otak yang saya maksud ada 4 (empat) jenis, yaitu :
1. Sekuensial Konkret (SK)
2. Sekuensial Abstrak (SA)
3. Acak Abstrak (AA)
4. Acak Konkret (AK)

Pemikir atau Pembelajar Sekuensial Konkret (SK) memperhatikan dan mengingat detail dengan lebih mudah, mengatur tugas dalam proses tahap demi tahap, dan berusaha mencapai kesempurnaan. Pemikir atau Pembelajar Acak Konkret (AK) berpegang pada realitas dan mempunyai sikap ingin mencoba. Pemikir atau Pembelajar Acak Abstrak (AA) mengatur informasi melalui refleksi dan berkiprah di dalam lingkungan tidak teratur yang berorientasi pada orang. Pemikir atau Pembelajar Sekuensial Abstrak (SA) berpikir dalam konsep dan menganalisis informasi. Mereka adalah para filosof dan ilmuwan peneliti ternama.

Kedua hal tersebut (Modalitas dan Dominasi Otak) masing-masingnya memiliki ciri-ciri dan karakteristik tersendiri dalam menerima, menyerap dan mengolah informasi seperti telah dituliskan. Dalam konteks pembelajaran kedua hal ini sangat berpengaruh dalam keberhasilan mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Uniknya setiap manusia memiliki Modalitas dan Dominasi Otaknya sendiri, dimana ada yang lebih berperan atau primer, dan ada yang bersifat mendukung atau sekunder.

Oleh karena itu, setiap Guru memiliki Modalitas dan Dominasi Otaknya masing-masing, begitupun Murid-murid. Mereka memiliki Modalitas dan Dominasi Otaknya sendiri-sendiri. Ketika terjadi Modalitas dan Dominasi Otak yang bersesuaian maka terjadi proses belajar yang kondusif dan ‘nyambung’ antara Guru dan Murid. Namun ketika dalam proses pembelajaran terjadi ‘tidak nyambung’ antara Guru dan Murid, hal ini karena tidak bersesuaiannya antara Modalitas dan Dominasi Otak Guru dengan Murid-muridnya.

Penjelasan lengkap mengenai Modalitas dan Dominasi Otak, saya rasa, akan terlalu banyak bila disampaikan dalam tulisan ini. Bagi Anda yang tertarik lebih lanjut mengenai Modalitas dan Dominasi Otak, dapat menghubungi saya melalui email : fitra.faturachman@yahoo.co.id untuk saya kirimkan file yang dapat menjelaskan kedua hal tersebut.

The Meaning of the communication is the response that you get
(Makna/maksud dari berkomunikasi adalah respon yang Anda terima)

Anda sudah memahami bahwa setiap orang memiliki Modalitas dan Dominasi Otaknya masing-masing. Selanjutnya, dengan menggunakan presuposisi NLP berikutnya seperti tertulis diatas, maka ketika terjadi peristiwa ‘tidak nyambung’ antara Guru dan Muridnya, yang sebenarnya terjadi adalah komunikasi antara Guru dan Murid dalam pembelajaran tidak atau belum efektif. Dengan demikian komunikasi di kelas atau pembelajaran antara Guru dan Murid dikatakan efektif ketika respon yang diterima Guru sesuai dengan harapannya.

Hal ini dapat dijembatani dengan menyesuaikan Modalitas dan Dominasi Otak. Disini timbul pertanyaan,”Siapa yang menyesuaikan Modalitas dan Dominasi Otak dalam proses pembelajaran?” Dalam konteks pembelajaran, Guru tentu dituntut lebih mampu menyesuaikan dirinya dengan keadaan murid-muridnya. Hal ini bisa dilakukan ketika Guru sudah lebih dulu mengenali Modalitas dan Dominasi Otaknya sendiri, lalu mempelajari lebih lanjut mengenai pemanfaatan kedua hal ini dalam konteks pembelajaran.

Ketika Guru sudah mengenali Modalitas dan Dominasi Otak dirinya sendiri dan dapat mengenali Modalitas dan Dominasi Otak murid-muridnya, maka membawakan materi pelajaran menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan. Hal ini karena satu materi dibawakan dengan minimal 3(tiga) modalitas yang diakomodasikan dalam materi pembahasan pelajaran. Atau mungkin malah menjadi sesuatu yang menyulitkan atau membingungkan Guru. Namun pembahasan membawakan materi dengan berbagai modalitas ini dapat digunakan ilmu Multiple Intelligence dari Howard Gardner. Namun setidaknya, ketika seorang Guru sudah lebih mengenali Modalitas dan Dominasi Otak dirinya sendiri, dia akan lebih mudah memahami Modalitas dan Dominasi Otak Murid-muridnya.

People respon to their map of reality, not to reality itself
(Orang merespon kepada peta realitas (realitas internal – yang berada di otak) mereka sendiri, bukan kepada realitas itu sendiri[realitas eksternal – peristiwa yang terjadi])
And, People always make the best choice available to them
(Orang selalu membuat pilihan terbaik yang tersedia bagi mereka)

Kejadian ‘tidak nyambung’ antara komunikasi Guru dan Muridnya dalam konteks pembelajaran di kelas juga dapat dijelaskan dengan presuposisi berikut ini yaitu : People respon to their map of reality, not to reality itself dan People always make the best choice available to them.

Ketika Guru menerangkan materi pembahasan pelajarannya, dia melakukannya dengan menggunakan Modalitas dan Dominasi Otaknya. Begitupun Muridnya. Mereka menerima materi yang disampaikan Guru-gurunya menggunakan Modalitas dan Dominasi Otaknya sendiri-sendiri.

Oleh karena masing-masing, baik Guru maupun Murid menggunakan Modalitas dan Dominasi Otaknya masing-masing, maka situasi ‘tidak nyambung’ itu terjadi karena People respon to their map of reality, not to reality itself dan People always make the best choice available to them, orang – baik Guru maupun Murid – merespon sesuai dengan realitas internalnya yang diperolehnya melalui Modalitas dan Dominasi Otak dan orang – termasuk Guru dan Murid – selalu membuat pilihan terbaik yang tersedia bagi mereka – yang juga berasal dari Modalitas dan Dominasi Otaknya.

Sekali lagi, saya sampaikan disini bahwa hal ini dapat dijembatani dengan dimulai dari Guru terlebih dahulu. Maksud saya, Guru lebih dulu mengenali Modalitas dan Dominasi Otak dirinya sendiri, lalu mulai mempelajari lebih lanjut mengenai pemanfaatan Modalitas dan Dominasi Otak dalam konteks pembelajaran.

Mengenali Modalitas dan Dominasi Otak Murid melalui Perilakunya

Dalam menjelaskan mengenai mengenali Modalitas dan Dominasi Otak Murid, saya mengasumsikan bahwa Guru sudah mengetahui Modalitas dan Dominasi Otaknya sendiri. Dengan demikian akan lebih mudah bagi Guru tersebut untuk mengenali Modalitas dan Dominasi Otak Muridnya. Setidaknya, ada hal-hal yang mirip dengan Modalitas dan Dominasi Otak yang dia (Guru) miliki, walaupun tidak semua, dan perlu mengenali Modalitas dan Dominasi Otak yang lainnya dari murid-muridnya.

Modalitas dan Dominasi Otak seseorang dapat dikenali dengan memperhatikan perilaku orang tersebut. Seperti telah saya tuliskan diatas mengenai ciri-ciri dan cara-cara mengenali Modalitas dan Dominasi Otak. Hal itu semua dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal kecil yang biasa dilakukan seseorang tersebut. Dalam mengenali Modalitas dan Dominasi Otak Muridnya, seorang Guru bisa saja mengamati perilaku Murid-muridnya dalam kegiatan-kegiatan tertentu, baik dilakukan secara sengaja atau samar-samar dilakukan sambil memberikan tugas atau pertanyaan tertentu kepada Murid-muridnya.

Oleh sebab itu dalam hal ini ada satu presuposisi NLP lagi yang saya ingin perkenalkan yaitu : Every behavior is useful in some context (Setiap perilaku memiliki manfaat pada beberapa konteks).

Dalam mengamati perilaku seorang Murid mungkin saja timbul perilakunya yang menurut Guru dirasa tidak pada tempatnya atau mengganggu atau kesan konotatif negatif lainnya. Untuk tujuan mengetahui Modalitas dan Dominasi Otak Muridnya, dan untuk tujuan ini perlu mengamati perilaku Muridnya, maka hal-hal seperti yang telah saya sebutkan itu, sebaiknya diganti dengan pemahaman asumsi ini, yaitu Every behavior is useful in some context (Setiap perilaku memiliki manfaat pada beberapa konteks). Dengan demikian, dalam konteks mengenali Modalitas dan Dominasi Otak Murid dengan tujuan memudahkan Guru dalam membawakan materi pelajaran ke siswa, maka perilaku-perilaku Murid tersebut menjadi sangat memiliki manfaat, yaitu menemukan Modalitas dan Dominasi Otak Murid tersebut.

Ketika Modalitas dan Dominasi Otak Murid sudah dikenali, maka tinggal mengemas materi pembahasan pelajaran dengan menggunakan atau menyesuaikan Modalitas dan Dominasi Otak si Murid, sehingga dengan demikian akan memudahkan Guru dalam membawakan materi-materi pelajarannya. Dan dari sisi Murid pun, pembelajaran dengan Guru yang mengenali Modalitas dan Dominasi Otak dirinya pun akan terasa menyenangkan dan mudah diserapnya.

People already have most of the resources that they need
(Orang telah memiliki hampir semua sumber yang mereka perlukan)

Sesungguhnya manusia merupakan makhluk yang paling sempurna di alam semesta ini yang telah Allah ciptakan dengan kelengkapannya berupa akal, pikiran, perasaan, hati dan tubuh. Manusia sudah dipilihkan oleh Allah yang paling sesuai dan paling tepat dengan keadaan dirinya, termasuk dalam hal Modalitas dan Dominasi Otaknya. Dalam konteks pembelajaran pun demikian adanya. Guru-guru dan Murid-murid memiliki Modalitas dan Dominasi Otak yang dibutuhkan dalam mencapai keberhasilannya pembelajaran. Selanjutnya yang diperlukan hanyalah mengenali Modalitas dan Dominasi Otak, – baik yang dilakukan Guru dalam dirinya sendiri maupun terhadap Murid-muridnya – lalu menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang dimaksud.

Ketika Guru sudah mengenali Modalitas dan Dominasi Otaknya sendiri dan mengenali Modalitas dan Dominasi Murid-muridnya serta membawakan materi pembahasan pelajaran dengan menggunakan Modalitas dan Dominasi Otak yang sesuai dengan Murid-muridnya, maka pembelajaran menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh semua Murid.

There is no failure, only feedback
(Tidak ada yang namanya gagal, yang ada hanya umpan balik)
If what your’re doing does not work, do something else
(Jika sesuatu yang Anda lakukan tidak berhasil, lakukan sesuatu yang lain)

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan 2 (dua) presuposisi NLP lainnya, yaitu There is no failure, only feedback (Tidak ada yang namanya gagal, yang ada hanya umpan balik) dan If what your’re doing does not work, do something else (Jika sesuatu yang Anda lakukan tidak berhasil, lakukan sesuatu yang lain).

Proses mempelajari dan mengenali Modalitas dan Dominasi Otak, baik diri sendiri berlaku bagi Guru maupun menerapkannya kepada Murid-murid dalam rangka mengenali Modalitas dan Dominasi Otak Murid-muridnya memang bukan proses mudah, semudah membalikkan telapak tangan dan terjadi dalam semalam. Dibutuhkan beberapa kali pengamatan, latihan dan percobaan.

Namun yang penting dan perlu diingat dalam hal ini yaitu There is no failure, only feedback (Tidak ada yang namanya gagal, yang ada hanya umpan balik), tidak ada yang namanya gagal mempelajari atau gagal mengenali Modalitas dan Dominasi Otak, yang ada hanyalah umpan balik berupa inefektivitas komunikasi dari Guru ke Murid atau sebaliknya, yang terjadi dalam pembelajaran ketika peristiwa ‘tidak nyambung’ antara Guru dan Murid terjadi dan If what your’re doing does not work, do something else (Jika sesuatu yang Anda lakukan tidak berhasil, lakukan sesuatu yang lain), ketika Guru sudah mulai mempelajari dan berhasil mengenali Modalitas dan Dominasi Otak dirinya sendiri, namun tidak atau belum berhasil mengenali Modalitas dan Dominasi Otak Murid-muridnya, maka Guru dapat melakukan sesuatu yang lain dengan tujuan mengenali dan menemukan Modalitas dan Dominasi Otak Murid-muridnya – dimana semua ini dilakukan dengan tujuan memudahkan Guru dalam membawakan materi pelajaran ke Murid-muridnya.

Referensi :
1. Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Bobbi DePorter & Mike Hernacki, , Penerbit Kaifa, Cet.V, Nov 1999
2. Modul NFNLP Basic Practitioner Certification Course by NLP Consult lead by Abdul Aziez (Int’l Certified Trainer of NLP), 2008


Beri tanggapan

Your response:

Kategori